1.15. Dari ‘Kosmologi’ ke ‘Skenario Musiman’: Transisi Sumber Pengetahuan Petani untuk Antisipasi Konsekuensi Perubahan Iklim di Lombok Timur


Download0
Stock
File Size954.01 KB
Create Date10 October 2016
Download

Moh. Taqiuddin (Universitas Indonesia)

Abstract

Petani memulai musim tanam padi 2014/2015 pada awal Januari 2015 atau mundur dua bulan dibandingkan tahun sebelumnya karena keterlambatan permulaan musim hujan akibat kekeringan parah melanda Lombok Timur bagian Selatan sejak Oktober hingga Desember 2014. BMKG sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini adanya ancaman bencana ini di akhir September 2014. Namun, para petani kurang meyakininya. Mereka selalu mengacu pada hasil pengamatan tetua adat atas kejadian tumbuk untuk memprakirakan sifat hujan tahunan. Saat itu, curah hujan diinterpretasikan akan merate karena tumbuk terjadi pada tanggal nem olas. Namun, interpretasi tersebut meleset karena hujan belum mulai turun hingga pertengahan Desember sehingga petani hanya pasrah menghadapi kondisi tersebut. Mereka mulai meragukan keandalan pengetahuan kosmologi sebagai acuan antisipasi terutama di tengah ketidakpastian variabilitas iklim. Saat ini, pedoman antisipasi petani telah berubah secara perlahan sejak mereka memperoleh ‘pengetahuan baru’ melalui interaksi dialogis dengan para ilmuwan dan peneliti. Pada musim tanam 2015/2016, petani mulai mengacu pada ‘skenario musiman’ yang disediakan oleh ilmuwan dalam membuat keputusan terkait lahan dan tanaman mereka. ‘Pedoman baru’ ini telah memungkinkan petani memiliki gambaran akan kondisi iklim dalam tiga bulan ke depan sehingga mereka mempersiapkan diri secara lebih baik. Paper ini memuat penjelasan secara mendetail tentang bagaimana proses transisi sumber pengetahuan itu terjadi pada komunitas petani sawah tadah hujan di wilayah Lombok Timur bagian Selatan.

Keywords: kosmologi, skenario musiman, antisipasi, perubahan iklim.