7.5. Integritas Tubuh dan Praktik Sunat Perempuan di Indonesia


Download0
Stock
File Size539.00 KB
Create Date10 January 2017
Download

Fatimah Az Zahro

(Pusat Kajian Gender & Seksualitas, Universitas Indonesia)

Abstract

Gagasan mengenai Bodily Integrity di mana setiap orang memiliki hak atas tubuhnya masing-masing menjadi dasar bagi gerakan global untuk menghapuskan praktik sunat perempuan. Berbeda dengan sunat yang dilaksanakan pada laki-laki, sunat perempuan tidak memiliki manfaat dari aspek kesehatan. Praktik sunat perempuan seringkali malah membawa dampak negatif bagi kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual. Gagasan Bodily Integrity memandang bahwa praktik sunat perempuan yang dilaksanakan tanpa adanya persetujuan dari orang yang bersangkutan, berarti melanggar hak asasi orang tersebut atas tubuhnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Gender dan Seksualitas pada tahun 2015 mengenai Praktik Sunat Perempuan di Indonesia menunjukkan bahwa gagasan Bodily Integrity tidak bisa begitu saja diterapkan dalam masyarakat Indonesia. Pada masyarakat Indonesia, penguasaan atas tubuh seseorang tidak serta merta hanya dimiliki oleh orang yang bersangkutan. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak. Anak merupakan bagian dari keluarga, di mana keluarga memiliki wewenang dan tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi atas anak tersebut. Di sisi lain, keluarga merupakan unit yang menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki nilai dan norma tertentu. Keluarga sebagai bagian dari masyarakat dituntut untuk mengikuti nilai dan norma yang telah disepakati, salah satunya adalah melaksanakan sunat pada anak perempuannya.
Pertentangan antara gagasan Bodily Integrity yang diusung oleh paradigma hak asasi manusia dengan kenyataan praktik sunat perempuan di lapangan kemudian semakin diperkeruh oleh kebijakan pemerintah mengenai sunat perempuan yang terus berubah-ubah.
Tulisan ini merupakan analisa terhadap penelitian kualitatif dan kuantitatif yang telah dilaksanakan oleh Pusat Kajian Gender dan Seksualitas mengenai Praktik Sunat Perempuan di 7 Wilayah Indonesia.

Keywords: FGC (Female Genital Cutting), bodily integrity, society, norms & values, policy ambiguity