Mengungsi sebagai Momen Festival: Sebuah Konstruksi Ruang-Waktu Adaptasi Alternatif

Yasin Yusup (Universitas Negeri Semarang)

Abstract

Menyikapi letusan sebagai ‘momen refreshing’ dengan melakukan evakuasi mandiri bersama hewan ternak di desa mitra merupakan bentuk konkrit hidup selaras dengan anugerah dan bahaya Merapi karena pada saat letusan terjadi baik momen bahaya maupun momen anugerah sedang berlangsung yang bila penduduk berada pada jalannya momen (ruang-waktu) itu berlangsung, maka yang terjadi adalah bencana. Mengungsi sebagai ‘momen refreshing’ mencerminkan warga memahami dan berusaha menyelaraskan dengan irama Merapi, seperti tercermin dalam ungkapan “wayahe nyisih kudu nyisih wayahe bali kudu bali, ora kudu ninggalke kampung tandur sak lawase ning aja penak-penak nek wayahe kudu nyisih.” Meskipun demikian, sampai dengan letusan 2010, masih ada benturan antar elemen irama lingkungan, misalkan antara irama letusan dengan kebutuhan hewan domestik yang menjadikan warga KRB melakukan part-timer evacuation untuk merumput dan memberi makan hewan ternaknya. Praktek merumput menjadi tak terhindarkan karena sudah menjadi rutinitas ruang-waktu keseharian warga semenjak kebijakan penetapan kawasan lindung oleh pemerintah Belanda dan menjadi semakin intensif sejak tahun 1990-an manakala beternak sapi perah menjadi andalan pendapatan sehari-hari yang sudah terintegrasi dengan sistem pasar. Merumput sudah menjadi “reproduksi ruang dan waktu abstrak yang mengenakan setting hukum ruang-waktu yang tidak kelihatan, menstrukturkan perilaku keseharian” warga di KRB Merapi. Mengungsi bersama ternak sebagai momen refreshing bisa menjadi alternatif konstruksi ruang-waktu adaptasi baru dengan cara “penegasan kembali corak irama alternative yang membawa prospek munculnya sebuah ‘differential space-time’ yang  mampu menggantikan dominasi ruang abstrak dan waktu linier-nya yang terukur. Di sini “momen refreshing” lebih mirip dengan konsep festival Lefebvre dibandingkan konsep liburan Olwig yang merepresentasikan baik “kegembiraan, paguyuban, partisipasi dalam [festival]” maupun “sebuah kerjasama dengan tatanan alami (natural order).” Festival merupakan cara bagi warga untuk merangkul dan mengikat alam serta menyambut anugerahnya.